Senin, 09 November 2015

#SIP EVOLUSI CBIS

CBIS (Computer Based Information System) merupakan sebuah sistem yang terintegrasi, sistem-manusia-mesin yang memanfaatkan perangkat keras, perangkat lunak, database dan prosedur yang bertujuan untuk menyediakan informasi yang mendukung kegiatan organisasi. CBIS ini juga terdapat beberapa jenis evolusi.
Adapun Evolusi dari CBIS mengikuti system life cycle, yang terdiri dari : Siklus hidup suatu sistem bisa berlangsung beberapa bulan ataupun beberapa tahun (dalam satuan bulan atau tahun). Penentu lama dan yang bertanggung jawab atas SLC berulang ialah pemakai CBIS. Walau banyak orang mungkin menyumbangkan keahlian khusus mereka untuk pengembangan sistem berbasis komputer, pemakailah yang bertanggung jawab atas siklus hidup sistem. Tanggung jawab untuk mengelola CBIS ditugaskan pada manajer.
Evolusi perkembangan sistem informasi berbasis komputer ada beberapa tahap yaitu :
  1. Tahap 1-Berfokus pada Data (EDP)
Awalnya komputer digunakan untuk aplikasi akuntansi (pengolahan data elektronik / EDP). Pada tahap ini aplikasi Accounting Information System (AIS) menggunakan computer hanya untuk pengolahan data perusahaan yang bersifat sederhana, di mana informasi untuk manajemen masih merupakan produk sampingan. Dalam bahasa Indonesia disebut juga Sistem Informasi Akuntansi (SIA).
Sistem informasi akutansi merupakan sistem informasi yang melaksanakan aplikasi akuntansi perusahaan, yaitu sebagai pengolah data perusahaan, Perusahaan tidak dapat memilih untuk menggunakan SIA atau tidak, sistem ini merupakan keharusan. Semua perusahaan pada dasarnya melaksanakan prosedur-prosedur yang sama. SIA lebih berorientasi pada data dibanding pada informasi, walaupun ada beberapa informasi yang dihasilkan. SIA menyediakan database bagi sistem informasi lain.
  • Tahap 2-Berfokus pada Informasi (SIM)
Muncul konsep SIM (Sistem Informasi Managemen) yaitu menghasilkan informasi manajemen disetiap area fungsional dan level aktivitasnya. SIM merupakan suatu sumber daya organisasi yang menyediakan informasi pemecahan masalah bagi sekelompok manajer secara umum mewakili suatu unit organisasi seperti suatu tingkat manajemen atau suatu area fungsional.
  • Tahap 3-Berfokus pada Komunikasi
Otomatis Kantor (office automation -OA) yang memudahkan komunikasi dan meningkatkan produktivitas diantara para manajer dan pekerja kantor melalui penggunaan alat-alat elektronik. OA berkembang meliputi aplikasi : konferensi jarak jauh (teleconferencing), voice mail, electronic mail, electronic calendaring, facsimile transmission, dan desktop publishing.
  • Tahap 4 – Berfokusl Pada Konsultasi
Perkembangan saat ini adalah penerapan kecerdasan buatan (artificial intelligence – AI) bagi masalah-masalah bisnis. Ide dasar AI adalah bahwa komputer dapat diprogram untuk melaksanakan sebagian penalaran logis yang sama seperti manusia. Bagian khusus dari AI, yaitu sistem pakar (expert system – ES) yang paling banyak mendapatkan perhatian.
Sumber:
Komarudin, D. (2013). Pengantar sistem informasi manajemen program studi sistem informasi. Diunduh dari http://www.slideshare.net/dindinkomarudin77/materi-sim-pertemuan-2. Diakses pada tanggal 8 November 2015.
Ymayowan. (2012). Sistem Informasi Manajemen. Diunduh dari http://ymayowan.lecture.ub.ac.id/files/2012/02/Presentasi-kel-1.pdf. Diakses tanggal 8 November 2015.

#SIP Computer Based Information System (CBIS)

Apa itu Computer Based Information System? Sistem Informasi yang menggunakan komputer (berbasis computer) dan teknologi komunikasi untuk melakukan tugas-tugas yang diinginkan (sebagai alat bantu untuk pengambilan keputusan). Sistem berbasis komputer mempunyai arti bahwa komputer mempunyai peran penting dalam sebuah pembangkit informasi. Melalui integrasi yang dimiliki antar subsistemnya, sistem informasi akan mampu menyediakan informasi yang tepat, berkualitas, cepat dan akurat sesuai dengan manajemen yang memerlukannya.
CBIS atau Computer Base Information System mengandung arti bahwa komputer memainkan peranan penting dalam sebuah sistem informasi, meskipun secara teoritis, penerapan sebuah sistem informasi memang tidak harus menggunakan komputer dalam kegiatannya, namun pada prakteknya dengan data dan kebutuhan informasi yang begitu kompleks maka peran teknologi komputer begitu dibutuhkan, peran komputer inilah yang dikenal dengan istilah “computer based” karena digunakan untuk mengolah informasi dalam sebuah sistem maka disebut “Computer Base Information System” atau sistem informasi berbasis komputer.
Data
  1. Menurut berbagai kamus bahasa Inggris-Indonesia, data diterjemahkan sebagai istilah yang berasal dari kata “datum” yang berarti fakta atau bahan-bahan keterangan.
  2. Dari sudut pandang bisnis, terdapat pengertian data bisnis sebagai berikut : “Business data is an organization’s description of things (resources) and events (transactions) that it faces“. Jadi data, dalam hal ini disebut sebagai data bisnis, merupakan deskripsi organisasi tentang sesuatu (resources) dan kejadian (transactions) yang terjadi.
  3. Pengertian yang lain mengatakan bahwa “data is the description of things and events that we face“.
Jadi pada intinya, data merupakan kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian dan merupakan kesatuan nyata yang nantinya akan digunakan sebagai bahan dasar suatu informasi.
Informasi
Berikut juga akan disampaikan pengertian informasi dari berbagai sumber.
  1. Menurut Gordon B. Davis dalam  bukunya Management Information System : Conceptual Foundations, Structures, and Development menyebut informasi sebagai data yang telah diolah menjadi bentuk yang berguna bagi penerimanya dan nyata, berupa nilai yang dapat dipahami di dalam keputusan sekarang maupun masa depan.
  2. Menurut Barry E. Cushing dalam buku Accounting Information System and Business Organization, dikatakan bahwa informasi merupakan sesuatu yang menunjukkan hasil pengolahan data yang diorganisasi dan berguna kepada orang yang menerimanya.
  3. Menurut Robert N. Anthony dan John Dearden dalam buku Management Control Systems, menyebut informasi sebagai suatu kenyataan, data, item yang menambah pengetahuan bagi penggunanya.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan hasil dari pengolahan data menjadi bentuk yang lebih berguna bagi yang menerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian nyata dan dapat digunakan sebagai alat bantu untuk pengambilan suatu keputusan.
Kontribusi/ Manfaat CBIS
Manfaat utama dari perkembangan sistem informasi bagi sistem pengendalian manajemen adalah :
  • penghematan waktu
  • penghematan biaya
  • peningkatan efektivitas
  • pengembangan teknologi pengembangan personel akuntansi
Diharapkan dengan adanya manfaat ini mampu memberikan kompetisi yang sehat bagi perusahaan dalam persaingan yang ketat. Khususnya di era globalisasi yang semakin canggih seperti sekarang ini
Sumber:
Wahyono, T. (2003). Computer based information system (CBIS). Kuliah BerseriIlmuKomputer.com, 1,  1-5.
Wulandari, D.I., Fajrina, N.A., Abdianti, Y. (2015). Computer based information system (CBIS).Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, 1, 1-5.
YULIDC. (2012). Pengertian computer based information system (CBIS). Diakses pada 11 Oktober, 2012, dari http://www.perpuskita.com/cbis/624/

Minggu, 11 Oktober 2015

#SIP Arsitektur Komputer & Struktur Kognisi Manusia

Arsitektur komputer ini merupakan rencana cetak-biru dan deskripsi fungsional dari kebutuhan bagian perangkat keras yang didesain (kecepatan proses dan sistem interkoneksinya). Dalam hal ini, implementasi perencanaan dari masing-masing bagian akan lebih difokuskan terutama, mengenai bagaimana CPU akan bekerja, dan mengenai cara pengaksesan data dan alamat dari dan ke memori cache, RAM, ROM, cakram keras, dll). Beberapa contoh dari arsitektur komputer ini adalah arsitektur von Neumann, CISC, RISC, blue Gene, dll. Arsitektur komputer juga dapat didefinisikan dan dikategorikan sebagai ilmu dan sekaligus seni mengenai cara interkoneksi komponen-komponen perangkat keras untuk dapat menciptakan sebuah komputer yang memenuhi kebutuhan fungsional, kinerja, dan target biayanya. Arsitektur komputer biasanya lebih cenderung pada kajian atribut-atribut sistem komputer yang terkait dengan seorang programmer.

Komponen komputer dibagi menjadi 4 bagian yaitu :
1.    Input
Input (Masukan) Adalah perangkat keras komputer yang berfungsi sebagai alat untuk
memasukan data atau perintah ke dalam komputer yang berupa signal input atau
maintenance input. Di dalam sistem komputer, signal input berupa data yang dimasukkan
ke dalam sistem komputer, sedangkan maintenance input berupa program yang digunakan
untuk mengolah data yang dimasukkan.
2.    Pemroses
Sebuah komponen komputer yang bekerja untuk mengolah data yang masuk kedalam
komputer.
3.    Penyimpanan
Sebuah komponen komputer yang berfungsi untuk menyimpan data baik sementara atau
selamanya.
4.    Output
Output (Keluaran) Adalah perangkat keras komputer yang berfungsi untuk menampilkan
keluaran sebagai hasil pengolahan data. Keluaran dapat berupa hard-copy (ke kertas), soft
copy (ke monitor), ataupun berupa suara

Kelebihan arsitektur komputer :
1.    Informasi yang sudah tersimpan tidak tercampur dengan informasi yang lainnya
2.   Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memunculkannya kembali
3.   Multi user, artinya sistem ini dapat digunakan oleh beberapa orang dalam waktu yang
bersamaan
4.    Dapat membuka beberapa aplikasi dalam waktu yang bersamaan
5.    Menggunakan teknologi time-sharing

Kekurangan arsitektur komputer :
1.    Memerlukan tempat yang besar untuk menyimpan
2.    Harganya mahal
3.    Membutuhkan waktu yang lama dalam memproses serta daya listrik yang besar

Kognitif berasal dari bahasa Latin cognosere, “ untuk mengetahui” atau “untuk mengenali
merujuk kepada kemampuan untuk memproses informasi, menerapkan ilmu, dan
mengubah kecenderungan (Nehlig, 2010).

Kognisi adalah suatu konsep yang kompleks yang melibatkan sekurang-kurangnya aspek
memori, perhatian, fungsi eksekutif, persepsi, bahasa dan fungsi psikomotor.
arsitektur komputer dibutuhkan untuk membantu guna mempercepat,menambah dan
mempermudah manusia memproses informasi untuk di lanjutkan pada proses-proses
selajutnya dalam kognisi manusia.

Pada dasarnya, proses berfikir manusia sama halnya seperti proses kerja computer yang
terdiri dari 3 tahap, yaitu :

1 : memasukkan informasi (input) ditangkap lewat panca indera.
2 : pemrosesan informasi (storage) melalui otak.
pengeluaran informasi yang telah diolah (output) berupa ide / perilaku.

Hubungan Arsitektur Komputer dan Kognisi Manusia

Hubungan arsitektur komputer dan kognisi manusia dapat terjadi karena adanya
persamaan diantara kedua hal tersebut yakni adanya proses input untuk memasukan
informasi, memproses informasi tersebut kemudia output mengeluarkan infromasi tersebut.


Referensi :

Basuki, H. (2009). Psikologi Umum. Jakarta-Universitas Gunadarma
Anonim. (2013). Komponen-kompenen arsitektur komputer.https://prezi.com/mtexjtmoaufh/komponen-komponen-arsitektur-komputer/ diakses tanggal 12 oktober 2015
Mastur.(2011). Piaget dan teori belajar kognitif. http://sonsaka.blog.ugm.ac.id/2011/10/25piaget-dan -teori-belajar-kognitif/ diakses tanggal 12 Oktober 2015

#SIP INFORMASI DAN SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

Manusia memiliki pengetahuan dan pengalaman yang selalu ingin dibagaikan kepada orang lain. pengalaman atau pengetahuan yang dikomunikasikan kepada orang lain tersebut merupakan pesan atau informasi. Menurut Kenneth informasi adalah data yang sudah dibentuk kedalam sebuah formulir bentuk yang bermanfaat dan dapat digunakan manusia dan juga informasi adalah penerangan, keterangan, pemberitahuan, kabar atau berita, dan keterangan atau bahan nyata yang dapat disajikan dasar kajian analisis atau kesimpulan.

Komponen komponen Infomasi : 

1. Akurasi (accuracy) Sebuah informasi harus akurat karena dari sumber informasi hingga penerima informasi kemungkinan banyak terjadi gangguan yang dapat mengubah atau merusak informasi tersebut. Suatu informasi dikatakan akurat apabila jelas maksudnya dan tidak ada kesalahan-kesalahan.

2. Relevansi (relevancy) Informasi dikatakan berkualitas jika relevan bagi pemakainya, bahwa suatu informasi harus bermanfaat bagi pemakainya. 

3. Tepat Waktu (timeliness) Informasi yang dihasilkan dari suatu proses pengolahan data, datangnya tidak boleh terlambat, karena informasi yang terlambat tidak akan mempunyai nilai yang baik.

Fungsi Infomasi
1. Meningkatkan pengetahuan atau kemampuan pengguna
2. Mengurangi ketidakpastian dalam proses pengambilan keputusan
3. Mengambarkan keadaan sesuatu hal atau peristiwa yang terjadi

Sistem informasi psikologi adalah sebuah sistem terintegrasi atau sistem manusia-mesin untuk menyediakan infromasi untuk mendukung operasi, manajeman dalam suatu organisasi guna menyediakan informasi-informasi yang berhubungan dengan psikologi.

Ada beberapa fungsi dari sistem informasi Psikologi (Dudung, 2015), yaitu:
  1. Meningkatkan aksesibilitas data yang tersaji secara tepat waktu dan akurat bagi para pemakai, tanpa mengharuskan adanya prantara sistem informasi.
  2. Menjamin tersedianya kualitas dan keterampilan dalam memanfaatkan sistem informasi secara kritis.
  3. Mengembangkan proses perencanaan yang efektif.
  4. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan akan keterampilan pendukung sistem informasi.
  5. Menetapkan investasi yang akan diarahkan pada sistem informasi.
  6. Mengantisipasi dan memahami konsekuensi-konsekuensi ekonomis dari sistem informasi dan teknologi baru.
  7. Memperbaiki produktivitas dalam aplikasi pengembangan dan pemeliharaan sistem.

Referensi : 

Dudung. (2015). 12 pengertian dan fungsi sistem informasi menurut para ahli.
Basuki, H. (2009). Psikologi Umum. Jakarta-Universitas Gunadarma

#SIP ETIKA-ETIKA MENULIS ARTIKEL ONLINE

Etika secara etimologi berasal dari kata Yunani yakni ethos atau dalam bentuk jamaknya (ta etha) yang berarti watak, kesusilaan atau adat istiadat. Berarti etika berhubungan dengan kebaikan hidup, kebiasaan atau karakter baik terhadap seseorang, masyarakat atau terhadap kelompok masyarakat. 

menurut Saukah (Abdullah,2012), salah satunya yaitu, seorang penulis harus membuktikan karyanya memang hasil orisinil miliknya, bukan jiplakan, penulis juga harus menulis secara cermat, teliti, tepat, dan akurat untuk terhindar dari pelanggaran seperti Fabrikasi data yang merupakan mempabrik data atau membuat data yang sebenarnya tidak ada atau lebih umumnya data fiktif, Falsifikasi data yaitu mengubah data sesuai dengan keinginan, terutama agar sesuai dengan simpulan yang ingin diambil dari sebuah penelitian , dan Plagiat atau plagiarisme kata ini sudah umum dikalangan masyarakat, khususnya di Indonesia, plagiarisme ialah mengambil kata atau kalimat teks seseorang tanpa memberikan bentuk situasi yang secukupnya. Dengan adanya pelanggaran ilmiah dapat menjaga kebenaran dan manfaat serta makna informasi yang disebarkan sehingga tidak memberi dampak buruk kepada pembacanya. Seorang penulis juga harus bertanggung jawab dengan tulisan yang dibuatnya dan tulisannya dapat memberi manfaat kepada masyarakat yang membacanya.



Terdapat 3 hal penting yang harus diperhatikan tentang etika dan kode etik dalam penulisan pada sebuah media adalah sebagai berikut :

1.    Gunakan bahasa yang sopan, baik dan benar

Gunakanlah bahasa yang sopan pada saat menulis sebuah artikel atau berita di sebuah media online. Karena internet tersambung dengan akses yang mencakup seluruh dunia. Dimana artikel atau berita yang kita muat pada internet dapat dibaca oleh siapapun dari berbagai kalangan masyarakat di seluruh dunia. Apabila kita tidak menggunakan bahasa yang sopan maka cara pandang seseorang terhadap kita akan berdampak buruk pada pribadi serta lingkungan kita sendiri. Janganlah menyingkat sebuah kata dalam pengetikan suatu artikel. Seperti kata “yang” disingkat menjadi “yg”, “kepada” menjadi “kpd dan lain sebagainya. Hal itu hanya membuat pusing seseorang yang membaca artikel kita.

2.    Gunakan huruf kapital (capslock) seperlunya


Gunakanlah huruf kapital pada penulisan seperlunya. Karena jika kita menuliskan dengan menggunakan huruf kapital secara dominan, kata yang tertulis dapat berarti lain bagi seseorang yang membacanya. Sebaiknya tulislah berita atau artikel dengan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif. Karena pembaca sangat tertarik terhadap suatu artikel atau berita yang ditulis secara komunikatif. Bahasa yang baik dan benar pun memudahkan pembaca mengerti maksud dan inti dari sebuah berita yang disampaikan oleh kita sebagai penulis.

 

3.    Menggunakan EYD yang sesuai


Selain menggunakan bahasa yang sopan, penulisan dalam media pun harus menggunakan EYD yang sesuai. Dikarenakan penulisan yang menggunakan EYD secara yang sesuai pun dapat memudahkan pembaca untuk mengerti inti dari sebuah tulisan yang kita tulis. Dan juga dapat memberikan kesan yang positif terhadap pribadi si penulis. Tak jarang sebuah tulisan di media online digunakan untuk referensi tulisan bagi seseorang. Jadi jika sebuah artikel yang di tulis tidak memperhatikan EYD dengan baik sebagus apapun isi dari artikel tersebut orang lain tidak akan menjadikannya sebagai referensi.



Referensi :

Saukah, Ali. 2000, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Universitas Negeri Malang.
 http://forum.kompas.com/megapolitan/155296-inilah-alasan-dibalik-penulisan-huruf
kapital.html
 http://www.romelteamedia.com/2014/04/dasar-dasar-jurnalistik-untuk-pemula.html
WS., Titik. 2003. Kode Etik/ Tanggung Jawab Penulis. Yogyakarta: Pink Books, PUSBUK,
dan Taman Melati.

Rabu, 22 April 2015

Artikel ke 6 : Konsep Carl Rogers tentang Kepribadian, Unsur-unsur Terapi & Metode-metode Dalam Person Centered Therapy

 PERSON CENTERED THERAPY

Rogers tidak menggambarkan perkembangan individu dalam tahapan tertentu seperti laiknya Erikson dan beberapa psikolog kepribadian lainnya. Rogers lebih mengarahkan teorinya untuk membingkai perkembangan kepribadian melalui mekanisme-mekanisme yang dapat berlaku secara universal. Kelemahan dari perspektif ini adalah kesulitan untuk menerapkannya pada situasi umur yang berbeda, seperti pada usia anak-anak di mana perkembangan kognitif belum seperti usia dewasa. Catatan penting pada teori kepribadian rogers adalah self terbentuk melalui pengalaman-pengalaman yang unik pada setiap individu. Pengalaman tersebut, selanjutnya, dipersepsi menjadi bagian-bagian yang disimbolisasikan menjadi konsep utuh self atau kepribadian. Pengalaman dipahami menjadi nilai-nilai yang kemudian membentuk self. Karena itu struktur self pada setiap orang dapat berubah dan berkembang sesuai dengan situasi dan ragam pengalaman yang ditemui atau dirasakan.
Evaluasi adalah proses yang sangat mungkin terjadi pada struktur self. Rogers menggarisbawahi bahwa evaluasi hanya dapat dilakukan apabila self tidak merasa terancam.  Evaluasi terjadi apabila individu merasa bahwa pengalaman tertentu tidak sesuai dengan konsep self yang aktual.

Konsep teori tentang kepribadian Rogers (Rogers dalam Corsini, 2011) mengacu pada sembilanbelas pokok pikiran tentang kepribadian, yaitu:
  1. Semua individu (organisme) berada di dunia pengalaman yang terus berubah. Pada konteks tersebut, individu tersebut adalah pusat perubahan.
  2. Individu atau organisme bereaksi terhadap perubahan fenomena sebagaimana hal tersebut dirasakan atau dipersepsikan. Fenomena yang dipersepsikan tersebut adalah realitas bagi individu.
  3. Organisme bereaksi sebagai satu unit yang utuh terhadap bidang fenomena.
  4. Individu memiliki kecenderungan dan upaya untuk mengaktualisasikan, menjaga dan memelihara status sebagai organisme yang terus memberikan makna atas pengalaman.
  5. Beberapa bagian dari keseluruhan ruang yang dipersepsi secara bertahap akan dipisahkan dan menjadi sesuatu yang disebut diri (self).
  6. Sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan –dan lingkungan sebagiannya adalah hasil interaksi dengan individu lain– self terbentuk, cair tapi konsisten pada persepsi tentang karakteristik  dan hubungan antara aku (I sebagai subyek) dan aku lian (me sebagai obyek) bersama dengan pelbagai nilai yang terselip pada konsep-konsep tersebut.
  7. Sudut pandang terbaik untuk memahami kepribadian subyek tertentu mengacu pada kerangka yang mengacu langsung kepada individu.
  8. Perilaku secara prinsipil merupakan upaya yang diarahkan untuk memenuhi pelbagai kebutuhan sebagai sesuatu yang dialami pada ruang pengalaman langsung yang dipersepsi.
  9. Emosi menyertai dan memfasilitasi tujuan yang mengarahkan perilaku. Sementara bentuk emosi berhubungan dengan jenis perilaku yang dianggap berpengaruh untuk mempertahankan keberadaan individu.
  10. Nilai melekat pada pengalaman, sementara nilai menjadi bagian langsung dari struktur diri (self) dan nilai-nilai yang merupakan bagian dari struktur diri.
  11. Pengalaman yang terjadi dalam kehidupan individu beroperasi dengan cara: a) disimbolkan, dirasakan dan disusun dalam beberapa hubungan langsung dengan diri; b) diabaikan karena tidak ada hubungan yang dirasakan secara langsung  pada struktur diri (self); dan c) indvidu menolak simbolisasi pengalaman karena tidak konsisten dengan struktur diri (self) tersebut.
  12. Hampir seluruh model perilaku yang diterima oleh individu adalah bentuk yang sesuai dan konsisten dengan konsep diri.
  13. Perilaku dapat disebabkan oleh pengalaman organik dan kebutuhan yang belum disimbolisasikan pada self.
  14. Penyesuaian psikologis  terjadi apabila ketika konsep diri,  seperti pengalaman viseral dan sensorik berasimilasi pada tingkat simbolis ke dalam hubungan yang konsisten dengan konsep diri pada individu.
  15. Kegagalan menyesuaikan diri secara psikologis ada terjadi apabila individu menyangkal pengalaman sensoris dan viseral. Akibatnya pengalaman tersebut tidak tersimbolisasikan and tertata pada struktur kepribadian. Situasi ini menyebabkan ketegangan atau potensi ketegangan psikologis.
  16. Pelbagai pengalaman yang tidak sesuai dengan struktur kepribadian individu dinilai sebagai ancaman. Sikap ini dimunculkan untuk mempertahankan situasi kepribadian atau self itu sendiri.
  17. Self, pada situasi tertentu akan mengevaluasi pengalaman yang tidak konsisten dengan struktur kepribadian. Penilaian terhadap pengalaman tersebut akan direvisi. Hal ini terjadi apabila pengalaman yang tidak sesuai tersebut muncul dengan tidak menimbulkan ancaman atas struktur self itu sendiri.
  18. Ketika pengalaman sensoris tertentu diterima dan dipersepsi lalu disatukan ke dalam satuan sistem kepribadian, maka kecenderungan lain yang muncul adalah self akan lebih memahami keberadaan sesuatu yang lian dan memahami keberadaan individu lain sebagai yang terpisah dari dirinya.
  19. Karena individu memiliki sistem untuk mempersepsi dan menerima pelbagai pengalaman ke dalam struktur kepribadian, maka ia akan menyadari telah mengganti atau memperbaharui nilai-nilai terkini. Perubahan tersebut secara intensif mengacu pada  kecenderungan introyeksi yang telah disimbolisasikan secara terdistorsi atau tersesuaikan melalui sebuah proses penilaian yang berkelanjutan pada individu.
Rogers memiliki konsep kepribadian individu yang secara utuh berfungsi (fully functioning person). Konsep ini akan dijelaskan pada bagian tujuan terapi menurut Rogers.

Munculnya Psikopatologi

Istilah kegagalan penyesuaian (maladjustment) menjadi istilah penting dalam pemikiran Rogers menyangkut perkembangan psikopatologi. Istilah ini berlawanan dengan istilah lain, yaitu individu yang berfungsi secara utuh (fully functioning person). Ketidaksesuaian konsep diri dan tindakan menyebabkan individu mengalami hambatan tertentu untuk mengekspresikan dirinya atau sesuatu yang berkaitan langsung dengan medan fenomena. Hal ini menyulitkan individu dalam proses kontak langsung terhadap medan fenomena selanjutnya.Maladjusment juga menyebabkan ketegangan berlangsung secara terus menerus selama ketidaksesuaian tersebut masih terjadi dalam hubungan self dengan medan fenomena.

Istilah ini menunjukkan situasi individu yang bertindak tidak sesuai dengan konsep diri atau struktur kepribadian itu sendiri. Pengalaman –yang dijalani– menjadi sesuatu yang bertolak belakang dengan situasi kepribadian. Situasi inkongruen memaksa individu untuk bertindak sesuai dengan potensi atau sistem yang dimiliki. Pertentangan antara struktur kepribadian atau diri (self) selanjutnya menimbulkan ketegangan bagi pribadi tersebut. Tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai dan persepsi yang menjadi struktur self menimbulkan kecemasan yang lebih lanjut menimbulkan persoalan lain. Inkongruensi menimbulkan sikap bertahan yang membuat individu semakin sulit menerima hal-hal baru akibat karut-marutnya hubungan antara struktur kepribadian dan bentuk-bentuk tindakan.

Inkongruensi adalah konsekuensi dari dua bentuk tindakan dalam proses mempersepsi, yaitu mendistorsi dan menyangkal. Mendistorsi berarti kesalahan mempersepsi sesuatu untuk dapat diterima sebagai sebuah konsep makna dalam self. Distorsi dapat terjadi akibat penghayatan yang parsial atau tidak utuh pada pengalaman-pengalaman langsung pada medan fenomena. Self yang terbentuk dari informasi yang tidak lengkap atau salah dipahami akibat distorsi tidak akan terbentuk secara utuh pula. Berbeda dengan distorsi, penolakan berarti individu meniadakan pengalaman tertentu dari medan fenomena. Pada tataran koseptulisasi, penolakan dilakukan dalam bentuk pengingkaran atau tindakan tidak melibatkan pengalaman tertentu untuk turut dikonseptualisasi atau disimbolisasi ke dalam self. Pengingkaran menjadikan pengalaman self menjadi tidak utuh. Pemahaman yang tidak utuh ini menimbulkan masalah baru ketika self menemukan fenomena serupa –sehingga tidak memiliki referensi tindakan– atau ketika self membutuhkan sekuel pengalaman tersebut untuk mengambil keputusan terkait dengan hal lain yang berkaitan.

Ketidakselarasan menimbulkan dua kemungkinan, yaitu kecemasan dan tindakan bertahan. Kecemasan timbul karena adanya perbedaaan antara konsep self dengan tindakan dalam upaya untuk menyesuaikan sesuatu denga. n medan fenomena. Sementara tindakan bertahan menyebabkan self tidak memiliki respon yang baik atas perubahan-perubahan pada medan fenomena yang kemudian menghasilkan ketegangan lain.
Kecemasan terus menerus dapat dinilai kemudian menjadi adanya ancaman. Pada situasi inkongruen, self bisa saja mengganti konsep kongruensi menjadi konsep yang baru. Penggantian ini akan menjadikan self memiliki masalah yang baru, mengingat pembentukan konsep tersebut dilakukan dalam situasi ketidakselarasan. Semakin akutnya situasi inkongruensi pada self semakin situasi self itu sendiri. Self kemudian semakin merasa berjarak, tidak dapat merasakan secara utuh sebuah pengalaman akibat terbatasnya penolakan. Pertemuan dengan medan fenomena yang serupa tidak dapat diselesaikan oleh self akibat minimnya acuan penyelesaian masalah.

Tujuan Terapi

Tujuan terapi dalam konsep Rogers adalah membentuk individu yang secara utuh berfungsi (fully functioning person). Definisi fully functioning person adalah orang yang mampu mengalami secara utuh hal yang dirasakan dan mempersilakan kesadaran mengiringi secara bebas hal-hal yang dialami.
Rogers (1961) menilai beberapa corak penting individu yang berfungsi secara penuh, yaitu:

a). Memiliki sikap terbuka pada pengalaman. Individu pada taraf ini menjauhkan diri dari tindakan menghindari atau bertahan atas pelbagai hal yang terjadi dan berkembang.

b). Kehidupan eksistensial yang tumbuh kembang. Taraf ini mendorong individu untuk tidak melakukan distorsi atau pengingkaran atas elemen-elemen medan fenomena. Situasi ini lebih memudahkan individu untuk beradaptasi dengan lingkungannya.

c). Pertumbuhan kepercayaan terhadap diri dan pribadi. Taraf ini membuat individu memiliki kemampuan untuk menentukan tindakan-tindakan yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi kepribadiannya sehingga tidak menimbulkan inkongruensi.

d). Kebebasan memilih. Kekebasan memilih membuat individu terbebas dari hal-hal yang berpotensi menekan atau menghalangi self untuk tumbuh, menyesuaikan diri atau berkembang.
 
e). Munculnya kreativitas
Kreativitas menandai bahwa individu telah mampu menyesuaikan diri dengan  bebas terhadap medan fenomena. Hal ini membuat individu merasa bebas tanpa harus merasa terhalangi dengan situasi bertahan atau situasi yang mengancam. Kreativitas membuat individu lebih mudah melakukan tindakan yang tepat sesuai dengan struktur kepribadian.
 
f). Sikap konstruktif. Sikap ini bersungsi sebagai salah satu penghubung antara self dengan medan fenomena. Hal ini memudahkan self untuk membangun sikap-sikap yang penting dan sesuai dengan medan fenomena.
 
g). Kehidupan yang utuh. Kehidupan yang penuh berarti penerimaan atas medan fenomena secara penuh pula baik untuk aspek-aspek yang mudah diterima (kegembiraan dan keselarasan) atau hal-hal yang tidak mudah diterima (kesedihan dan kesusahan). Kedua aspek tersebut dianggap sebagai bagian utuh yang dijalani dalam proses hidup tanpa adanya ketertekanan. Penerimaan ini muncul dari sikap terbuka yang menerima apa adanya medan fenomena dan menyikapinya secara tepat agar tidak menimbulkan ketegangan atau persoalan eksistensial yang mendorong munculnya kecemasan.

Proses Psikoterapi

Proses terapi dalam konsep Client Centered Therapy (CCT) Carl Rogers langsung beranjak dari upaya terapis untuk memahami situasi yang melekat pada klien dengan cara atau pendekatan yang diinginkan oleh klien tersebut sendiri. Hal tersebut menjadi penting, mengingat terapis tidak hanya perlu berempati terhadap hal yang disampaikan oleh klien, tetapi juga menyangkut cara klien untuk menyampaikannya kepada terapis.
Sebagai fasilitator, proses penting dari CCT adalah menghubungkan pelbagai pengalaman dan perasaan agar secara utuh dirasakan dan dipahami oleh klien. Pelbagai pengalaman dan perasaan terkait, dihubungkan satu dengan yang lain untuk menemukan titik temu antar persoalan tersebut.
Penyelesaian persoalan tetap berada pada klien sebagai sumbu utamanya. Artinya, terapis juga berfungsi menjadi fasilitator yang menggali pelbagai kemungkinan dalam diri klien untuk menemukan solusi bagi situasinya yang sesuai dengan kepribadian dan situasi aktual atau medan fenomena yang dihadapi oleh klien. Rogers memberikan catatan bahwa semua pengalaman tidak sepenuhnya dialami (the past experience has never been completely experienced), karena itu salah satu tugas terapis adalah mendorong agar klien menemukan potongan pengalaman yang terdistorsi atau teringkari (denied) yang menimbulkan inkongruensi dan berujung pada kecemasan atau persoalan psikologis.
Prinsip dasar terapi dengan tanpa mengarahan (nondirective therapy) mengharuskan terapis menggali pengalaman klien secara utuh yang memungkinkan klien turut menemukan pemecahan atas persoalan atau sesuatu yang menghambat dan menjadi persoalan pada diri klien. Proses ini membutuhkan penuhnya perhatian dan penghormatan terapis pada situasi, kepribadian dan pengalaman klien tersebut. Klien menurut Rogers memiliki independensi untuk menemukan cara dan metode untuk menyelesaikan persoalannya sesuai dengan kenyamanan –yang mengacu pada konsep kepribadian klien sendiri.

Peran Terapis Menurut Rogers

Terapis dalam CCT tidak berfungsi sebagai orang yang menyelesaikan persoalan klien. Prinsip dasar psikoterapi Rogers yang menyebutkan individu adalah yang berdaya dan berkemampuan menyelesaikan persoalannya sendiri menempatkan terapis sebagai fasilitator bagi klien. Dalam hal ini, terapi berfungsi untuk menghubungkan pelbagai pengalaman klien, membangun pemahaman yang utuh, serta mendorong klien menemukan keselarasan (kongruensi) dengan mengacu pada kenyamanan –self structure– klien. Terapis bertugas untuk menciptakan situasi dan kehendak terapeutik bagi klien sehingga dapat menemukan tindakan yang paling tepat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapinya. Karena itu, fungsi terapis perlu selaras dengan prinsip terapi yang dikemukakan oleh rogers, yaitu:
a). Pemahaman secara empatik atas situasi klien
b). Penghargaan tanpa syarat
c). Keselarasan atau kongruensi
d). Adanya iklim terapeutik yang diutamakan dalam situasi terapi

Kualifikasi dan Keterampilan Terapis

Penerapan terapi CCT setidaknya membutuhkan tiga aspek penting pada terapis yang menangani subyek terapi, yaitu:

a). Empati

Empati harus dibedakan sebelumnya dengan  simpati. Empati mengacu pada pengalaman dan pemaknaan –apa yang dirasakan– langsung dari subyek yang mengalami. Terapis tidak mencapur pengalaman subyek dengan persepsi pribadinya yang memiliki pengalaman sejenis atau berbeda. Sikap empati menempatkan terapis dalam situasi yang alami untuk memahami situasi klien. Kemampuan ini juga mengharuskan terapis memeriksa apakah pemahamannya sesuai dengan pemahaman yang dimiliki oleh klien. Empati adalah situasi alamiah yang mengalir mengacu pada klien, dan bukan dalam bentuk refleksi yang mekanis atau mekanisme berkaca antara terapis dan klien.

b) Peduli

Sikap ini ditandai dengan penghargaan tak bersyarat terhadap klien. Terapis menghargai dengan pendekatan yang hangat, mengalir dan tanpa syarat atas otentitas klien sebagai individu yang memiliki keunikan pengalaman dan perasaan.

c). Otentitas

Maksud dari otentitas adalah kemampuan daan kesesuaian terapis untuk menghubungkan pengalaman-pengalaman klien secara utuh dengan mengacu pada klien. Tindakan ini tidak justeru tidak menggunakan pendekatan yang berjarak melainkan menggunakan teknik yang mengalir dan tanpa batasan jarak.

Daftar Pustaka

http://ensiklo.com/2014/07/mengenal-konsep-dan-metode-psikoterapi-carl-rogers/#Konsep_dan_Teori_Kepribadian_Menurut_Rogers
 
Corsini,. R.,J & Wedding,. D. (2011). Current Psychoterapist. Belmont: Brooks Cole Cengage Learning.

Artikel ke 5 : Konsep Dasar Pandangan Humanistik Eksistensial

 KONSEP DASAR

Psikologi eksistensial humanistic berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih – alih suatu system teknik – teknik  yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Pendekatan terapi eksistensial bukan suatu pendekatan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi – terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep – konsep dan asumsi – asumsi tentang manusia. Menurut Gerald Corey, (1988:54-55) ada beberapa konsep utama dari pendekatan eksistensial yaitu :

1. Kesadaran diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri itu pada seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kesanggupan untuk memilih alternative – alternatif yakni memutuskan secara bebas di dalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia.

2. Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab dapat menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati. Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesadaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi – potensinya.

3. Penciptaan Makna
Manusia itu unik, dalam artian bahwa dia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Pada hakikatnya manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah makhluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna dapat menimbulkan kondisi-kondisi keterasingan dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi – potensi manusiawinya sampai taraf tertentu.
Konsep dasar menurut Akhmad Sudrajat adalah :
  • Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan, dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya.
  • Manusia tidak pernah statis, ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda, oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri
  • Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression.

TUJUAN-TUJUAN TERAPEUTIK

Menurut Gerald Corey, (1988:56) ada beberapa tujuan terapeutik yaitu :

a. Agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi – potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Keotentikan sebagai “urusan utama psikoterapi” dan “nilai eksistensial pokok”. Terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik :
1)      Menyadari sepenuhnya keadaan sekarang,
2)      Memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan
3)      Memikul tanggung jawab untuk memilih.

b. Meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.

c. Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri, dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekadar korban kekuatan – kekuatan deterministic di luar dirinya.
Tujuan Konseling menurut Akhmad Sudrajat yaitu :
  1. Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. Saya adalah saya.
  2. Memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi cara berfikir, keyakinan serta pandangan-pandangan individu, yang unik, yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin.
  3. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya.
  4. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya.

TEKNIK MODEL

Teknik yang digunakan mengikuti alih – alih mendahului pemahaman. Karena menekankan pada pengalaman klien sekarang, para terapis eksistensial menunjukkan keleluasaan dalam menggunakan metode – metode, dan prosedur yang digunakan oleh mereka bisa bervariasi tidak hanya dari klien yang satu kepada klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama Meskipun terapi eksistensial bukan merupakan metode tunggal, di kalangan terapis eksistensial dan humanistik ada kesepakatan menyangkut tugas – tugas dan tanggung jawab terapis. Psikoterapi difokuskan pada pendekatan terhadap hubungan manusia alih – alih system teknik. Para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal – hal berikut (Gerald Corey.1988:58) :
  1. Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
  2. Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
  3. Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
  4. Berorientasi pada pertumbuhan.
  5. Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
  6. Mengakui bahwa putusan – putusan dan pilihan – pilihan akhir terletak di tangan klien.
  7. Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implicit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
  8. Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
  9. Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.
Menurut Akhmad Sudrajat teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling, sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Rogers. meliputi: (1) acceptance (penerimaan); (2) respect (rasa hormat); (3) understanding (pemahaman); (4) reassurance (menentramkan hati); (5) encouragementlimited questioning (pertanyaan terbatas; dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). (memberi dorongan); (5)
Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik; (2) mengambil keputusan yang tepat; (3) mengarahkan diri; (4) mewujudkan dirinya.

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN PENDEKATAN EKSISTENSIAL HUMANISTIK

Kelebihan
  1. Teknik ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan kepercayaan diri.
  2. Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri.
  3. Memanusiakan manusia.
Kelemahannya
  1. Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal
  2. Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas.
  3. Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan oleh klien sendiri)
  4. Memakan waktu lama.

Daftar Pustaka:
Gerald, Corey. 1988. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi.Bandung : PT ERESCO
http://www.psikologizone.com/konseling-terapi-pendekatan-eksistensial/06511676
http://syarifah-mimien.blogspot.com/2005/03/terapi-eksistensial-humanistik.htm
http://akhmadsudrajat.woordpress.com